Bentuk – Bentuk Penentangan Oleh Anak dan Cara Mengatasinya

Penentangan, kata ini sering diucapkan oleh para ayah dan ibu, bahkan remaja sendiri. Sebenarnya apasih makna penentangan itu sendiri?

Penentangan menurut Dr. Muhammad Fahd Ats-Tsuwaini dalam bukunya yang berjudul “Mendidik Anak Tanpa Kekerasan” adalah Istilah untuk ucapan atau tingkah laku yang mengekspresikan keengganan anak dalam melaksanakan perintah atau permintaan ayah dan ibu dengan cara langsung maupun tidak langsung.

Agar kita dapat memahami hakekat penentangan dan pengaruhnya di dalam keluarga, marilah kita ikuti pembahasan-pembahasan berikut supaya kita kita dapat temukan format terbaik dalam interaksi antara orang tua dan anak.

Bentuk – bentuk penentangan yang umum dilakukan anak ada banyak sekali bentuknya. Penentangan dan atau pembangkangan sebagaimana pendapat beberapa orang tua ketika anak-anak mengekspresikan penolakan mereka atas perintah atau permintaan orang tua mereka dengan cara tertentu. Bentuk – bentuk penentangan itu sebagaimana berikut:

Bentuk pembangkangan anak dan menentang orang tua


A. Penundaan Kemudian Pelaksanaan

Kadang – kadang anak sengaja menunda-nunda atau mengahirkan dalam melaksanakan perintah orang tua hingga di selesai mengerjakan pekerjaannya dahulu, ketika mereka sedang sibuk. Anak berfikir barangkalai penundaan itu membuat orang tu berubah pikiran, lupa atau meminta anak yang lain untuk melaksanakan perintah mereka sehingga anak tersebut lepas dari perintah. Tetapi jika orang tua memaksa, anak tersebut akan melaksanakannya setelah diminta baik dengn hati yang tulus, nggrundel atau terpaksa. Kesimpulannya disini adalah pelaksanaan perintah disertai adanya tekanan dari kedua belah pihak.

B. Penundaan Tanpa Pelaksanaan

Kadang-kadang anak menggunakan cara penundaan dengan tujuan untuk tidak melaksanakan perintah. Pada umumnya anak berhasil dengan cara itu khususnya ketika berinteraksi dengan ayah atau ibu yang emosional dank eras, demikian orang-orang menyebutnya. Orang tuaingin anak mereka melaksanakan perintahnya dengan cepat dan mereka tidak ingin ad penundaan. Ketika anak menunda-nunda dalam melaksanakan perintah, lalu ahirnya orang tua sendiri yang mengerjakan pekerjaan itu setelah memahami anaknya dengan nada-nada marah dan tidak senang. Yang terpenting bagi putra atau putri adalah mereka bisa lari dari melaksanakan perintah orang tua. Sedangkan jika orang tua itu mempunyai karakter tenang, tidak keras dan tidak memaksa, kadang dia lupa atau melupakan apa yang telah dia perintahkan.

C. Menolak dengan Tidak Langsung kemudian Melaksanakan Perintah Orang Tua

Pada ahir-ahir ini muncul suatu bventuk perilaku yaitu reaksi negative secar cepat atau penolakan dri seorang anak secara langsung. Ini adalah perilaku yang aneh, krena anak terbiasa bergegas dalam melaksanakan perintah atau permintaan karena rasa hormat, takut atau berbakti. Apapun sebabnya cepat-cepat dalam melaksanakan perintah orang tua menjadi alternative pengganti penolakan tegs. Dalam topic yang sedng kita bicarakan ini, anak secara langsung mengatakan “tidak”, “yang lainya saja”, “apa hanya aku”, “mengapa tidak memerintah saudara atu saudariku”?dan ungkapan penolakan tidak langsung lainya.

D. Pura-pura tidak tahu dan Tidak Melaksanakan

Pertentangan dapat muncul dalam bentuk pura-pura tidak tahu dengan tujuan tidak melaksanakan perintah. Bentuk ini terjadi ketika pihak yang diperintah menunjukkan sikap tidak memperhatikan perintah dengan alasan dia tidak mendengar, tidak paham atau dia merasa tidak diperintah atau dimintai sehingga terlewat begitu saja. Ketika di ditanya, kadang menjawab, “tidak ada yang memerintahkanku mengerjakan sesuatu.” Dengan tenang dan kadang mendorong anak untuk berbohong jika dia memang sengaja pura-pura tidak tahu. Tapi jika anak tidak mendengar suara ayah atau ibunya , ketika suara itu terlintas begitu saja tanda disadari atau anak tidak berusaha memahami apa yang dikatakan ayah atau ibu, maka ini merupakan cara menghindar yang jitu bagi anak. Cara ini member kesempatan anak untuk melarikan diri dari perintah, demikian juga memberi kesempatan dari tuduhan berbohong.

E. Menolak dengan Jelas dan Tidak Melaksanakan

Ini adalah penolakan tegs anak yang tidak ingin taat kepada orang tua dengan melksanakan perintah mereka baik dengan alasan kecapekan, sibuk, tidak mau, tidak member alasan apapun atau bentuk ungkapan penolakan lainya. Penentangan ini merupakan perilaku negatif, menyedihkan dan mengganggu keharmonisan keluarga, baik dari pihak ayah dan ibu maupun dari pihak anak sendiri. Barangkali bentuk penentangan ini yang banyak merepotkan orang tua. Tetapi ada manfaat lainya adalah bahwa penentangan atau penolakan ini bisa saja menjadi penyebab berlangsungnya dialog antara orang tua dan anak.

Ini dikisahkan dalam Al-Qur’an yaitu pada kisah nabi Nuh dan Puteranya yang menolak diajak naik Perahu.

Dari kisah tersebut kita dapat mengambil pelajaran sebagaimana berikut:

  • Usaha orang tua untuk memberi petunjuk anaknya dan tidak cepat gelisah dan putus asa ketika anaknya melawan dan tidak patuh.
  • Usaha yang berulang-ulang secara berkesinambungan.
  • Mengajak kepada ketaatan dan kepatuhan.
  • Berusaha sekuat tenaga dalam mengambil hati dan memberi petunjuk hingga titik terakhir.


Sebab – Sebab Penentangan 

Pada Praktiknya, kadang penentangan timbul karena orangtua atau anak, atau karena keduanya. Oleh karena itu, di sini kita mencoba untuk menyampaikan sebab-sebab pertentangan dan penolakan sebagaimana berikut:

1. Kesalahpahaman dan Ketidakmengertian

Ini merupakan bentuk miss komunikasi, atau salah pemahaman diantara orang tua dan anak. Mungkin orang tua mengira anak sudah mendengar dengan jelas apa yang diperintahkannya, tetapi konsentrasi ke hal lain ternyata anak tidak mendengar secara jelas atas perintah orang tuanya tersebut.

2. Mencari Perhatian dan Dukungan

Anak pada masa kanak-kanan (Usia 2-10 tahun) dan remaja (usia 10-18 tahun) mempunyai sifat cerdas dan memahami orang tuanya dengan baik. Bahkan beberapa anak memahami makna gerakan dan isyarat, demikian juga mereka memahami nada suara karena kedekatan mereka dan pemahaman mereka terhadap orang tua. Oleh karena itu, pemahaman ini kadang membuat anak mencari perhatian ayah atau ibu dengan cara sengaja menolak perintah dengan cara langsung atau tidak hanya untuk mendapatkan dukungan dan perhatian bahwa dia adalah anak mereka.

3. Intervensi dan masalah Pribadi

Disini pertentangan dan penolakan atau pembangkangan sebagaimana pendapat beberapa orang didahului atau disebabkan oleh intervensi ibu. Saya katakan ibu karebna pada umumknya ibu memegang peran lebih banyak dalam mendidik dan mengarhkan anak daripada ayah yang cenderung lebih banyak bekerja untuk memenuhi kebutuhan materi daripada kebutuhan emosi dan sosial di dalam keluarga. Oleh karena itu, banyak remaja baik laki-laki maupun perempuan mengeluh tentang intervensi ibu ke dalam masalah pribadi mereka. Mereka menolak dengan tegas kekuasaan apapun yang memisahkan mereka dari masalah-masalah pribadi dan keputusan mereka. Menurut saya, adalah hak anak untuk hidup didalam dunia mereka sebagaimana mereka kehendaki selama dalam bingkai yang baik sesuai dengan etika kegamaan dan tradisi yang benar.

4. Menunda-nunda

Kadang – kadang anak sengaja menolak langsung untuk mengerjakan sesuatu. Dia terpaksa berjanji melaksanakan perintah itu. Dia pun menundanya hingga dia siap untuk melaksanakan perintah itu karena:

  • Tidak mampu;
  • Cara yang tidak sesuai;
  • Malas dan capek.


5. Menolak Perintah Orang Tua Tanpa Sebab

Untuk poin silahkan baca pada artikel sebelumya yang berjudul Cara Mengatasi Anak Menolak Perintah Orang Tua Tanpa Sebab, disitu sudah pandbis uraikan secara jelas.

6. Balas Dendam

Keadaan ini menjadi masalah yang serius dan memang harus segera diambil penanganan yang tepat dan efektif agar baik orang tua dan anak serta keluarga bisa harmonis dan tidak ada konflik intern.
Keinginan balas dendam ini terjadi pada anak yang mengalami tekanan bathin atau desakan yang berlebih dari orang tua. Atau juga barangkali anak sakit hati terhadap ayah atau ibu karena tidak suka dengan perbuatan atau sikap yang selama ini ia tunjukkan padanya.
Ini adalah penentangan yang butuh pengobatan dari psikiater, praktisi sosiaal dan penasehat pendidikan.
Harus dilakukan pemecahan masalah keluarga dengan tenang, dengan hadirnyaanak ataupun tidak. Dan jangan ada perlawanan kontak fisik.

Nasihat-Nasihat untuk Orang Tua


  1. Jangan mengucapkan kata “penentangan” dalam situasi apapun kecuali jika kondisi mengharuskan demikian.
  2. Jangan menyebutanak sebagai “pembangkang” agar predikat itu tidak melekat ke dalam pribadi anak sehingga dia menjadi pembangkang sungguhan.
  3. Perhatikan anak ketika anda memerintah atau meminta dan memastikan dia bisa melaksanakannya.
  4. Berlakulah adil diantara anak dalam pembagian tugas.
  5. Biasakan anak untuk memegang tanggung jawab sejak dini dalam pekerjaan yang sesuai dengan usia mereka.
  6. Biasakan anak untuk menentukan pilihan yang bagus dengan cara menunjukkan alternatif-alternatif.
  7. Temani anak dalam pekerjaan dan tanggung jawab agar hubungan antara mereka dengan orang tua menjadi dekat dan agar anak mengambil pelajaran dari pengalaman orang tua.
  8. Beritahu anak ajaran ketaatan di dalam sejarah para Nabi dan orang-orang saleh. Beritahu mereka kedudukan ayah dan Ibu sebagai orang tua di hadapan mereka dan pahala taat di hadapan Allah.
  9. Bertindak tegas dan santun ketika salah seorang anak membangkang dengan tujuan menentang.
  10. Terimalah maaf mereka ketika mereka menyesal atas perbuatan dan pembangkangan mereka terhadap perintah orang tua. Berilah mereka kesempatan lagi.
  11. Berbaiksangkalah kepada anak, jangan berburuk sangka. Jagalah hubungan baik antara orang tua dan anak.


Itulah beberapa penjelasan tentang bentuk pembangkangan anak dan bagaimana cara dan solusi mengatasinya. Semoga informasi yang pandbis.com uraikan disini dapat membantu anda.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel